![]() |
| Penandatanganan Dokumen Workshop Pengembangan RAD PE NTB |
MATARAM
— Penyusunan Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan
yang Mengarah pada Terorisme (RAD PE) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)
memasuki tahap penguatan program. Setelah melakukan pemetaan persoalan dan
strategi intervensi melalui Focus Group Discussion (FGD), para pemangku
kepentingan pada hari kedua workshop menyepakati pentingnya mengintegrasikan
langkah pencegahan ke dalam program pembangunan daerah mulai Tahun Anggaran
2027.
Kegiatan
lanjutan sekaligus penutupan Workshop Pengembangan RAD PE NTB digelar di Hotel
Aston Inn Mataram, Selasa, 15 September 2026. Forum tersebut mempertemukan
unsur Pemerintah Provinsi NTB, perangkat daerah, aparat penegak hukum, instansi
vertikal, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, tokoh
agama, tokoh masyarakat, organisasi perempuan dan kepemudaan, pemerhati anak,
mitra pembangunan serta pemangku kepentingan lainnya.
Hari
kedua workshop diawali dengan pemaparan hasil FGD yang telah dilakukan pada
hari pertama. Hasil pemetaan tersebut kemudian dipertajam menjadi usulan
program, kegiatan dan intervensi yang dinilai lebih aplikatif sesuai kondisi
dan kewenangan masing-masing pihak.
Salah
satu hal yang menjadi perhatian adalah pentingnya melihat pencegahan
ekstremisme dari lingkungan terdekat masyarakat, termasuk keluarga, sekolah,
komunitas, lingkungan kerja hingga ruang digital.
Pada
kelompok pemerintah, misalnya, peserta membahas sejumlah perilaku dan faktor
yang perlu mendapatkan perhatian di lingkungan aparatur sipil negara (ASN),
mulai dari persoalan kedisiplinan, pemahaman kebangsaan, pengaruh kelompok
hingga konsumsi dan penyebaran konten provokatif di media sosial.
Intervensi
yang dibahas tidak hanya berupa pembinaan dan penegakan disiplin, tetapi juga
dialog, konseling, literasi digital, penguatan pemahaman kebangsaan serta
komunikasi yang lebih konstruktif.
Sementara
kelompok agama menyoroti tantangan pembelajaran agama melalui media sosial
tanpa rujukan yang kredibel, sikap eksklusif, lemahnya pendampingan orang tua
terhadap aktivitas digital anak, bullying serta pentingnya memperkuat
pendidikan agama dan karakter yang menghargai perbedaan.
Kelompok
perempuan turut menempatkan ketahanan keluarga sebagai salah satu bagian
penting dalam upaya pencegahan. Pengasuhan anak, penggunaan media digital,
komunikasi keluarga, relasi dalam rumah tangga, hingga pencegahan kekerasan
menjadi sejumlah isu yang dibahas.
RAD
PE Bukan Program Baru, tetapi Diintegrasikan
Dalam
pembahasan hari kedua, Sekretaris Bakesbangpoldagri NTB menegaskan bahwa RAD PE
tidak diarahkan untuk menciptakan seluruh program baru. Sebaliknya, rencana
aksi tersebut akan mengintegrasikan berbagai intervensi pencegahan yang sudah
menjadi bagian dari tugas dan program perangkat daerah.
“Penyusunan
RAD PE tidak dimaksudkan untuk menciptakan seluruh program dan kegiatan baru,
tetapi lebih diarahkan pada integrasi intervensi pencegahan dan penanggulangan
ekstremisme ke dalam program yang telah dimiliki oleh masing-masing perangkat
daerah,” demikian disampaikan dalam pengantar pembahasan.
Dengan
pendekatan tersebut, program pencegahan dapat dilaksanakan secara lebih
realistis dan terukur sesuai tugas, fungsi, kewenangan serta kapasitas
masing-masing perangkat daerah dan mitra terkait.
Pembahasan
kemudian dibagi ke dalam tiga desk untuk mempertajam sejumlah tema RAD PE.
Setiap desk didampingi fasilitator dan melibatkan perangkat daerah serta mitra
pembangunan sesuai bidang masing-masing.
Tema
yang dibahas mencakup peningkatan kapasitas aparatur, perlindungan dan
peningkatan sarana prasarana, kajian dan pemetaan wilayah rentan, penguatan HAM
dan tata kelola pemerintahan, kemitraan, pendidikan dan keterampilan,
fasilitasi lapangan kerja, perlindungan perempuan, pemuda dan anak,
perlindungan korban, ketahanan keluarga dan komunitas, hingga komunikasi
strategis, media dan sistem elektronik.
Kesepakatan
Bersama Jadi Titik Lanjut
Rangkaian
workshop ditutup dengan pembacaan dan penandatanganan kesepakatan bersama
seluruh pemangku kepentingan.
Kesepakatan
tersebut menegaskan bahwa pelaksanaan RAD PE membutuhkan dukungan lintas sektor
dengan mengedepankan prinsip pencegahan, perlindungan, penghormatan terhadap
hak asasi manusia, penguatan ketahanan masyarakat serta pendekatan yang
inklusif dan humanis.
Para
pihak juga berkomitmen untuk berperan sesuai tugas dan kewenangan masing-masing
serta memperkuat koordinasi dan komunikasi dalam pelaksanaan program pencegahan
ekstremisme di NTB.
RAD
PE juga akan disusun dengan mempertimbangkan karakteristik, potensi dan
kebutuhan NTB, termasuk hasil pemetaan risiko serta masukan dari berbagai
kelompok masyarakat.
Pada
sesi penutupan, Kepala Bakesbangpoldagri NTB yang diwakili Kepala Bidang
Poldagri dan Ormas, Muhajidin, menegaskan bahwa penyusunan dokumen RAD PE bukan
menjadi akhir dari proses.
“Penyusunan
RAD PE bukan merupakan akhir dari proses, melainkan awal dari komitmen bersama
untuk berkolaborasi, bergerak dan membangun ketahanan masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya,
pencegahan ekstremisme perlu dilakukan sejak lingkungan keluarga, sekolah,
kampus, komunitas hingga ruang digital. Generasi muda juga perlu ditempatkan
sebagai mitra sekaligus agen perdamaian dengan menghadirkan narasi positif
tentang Pancasila, toleransi, kebhinekaan dan perdamaian.
“Pencegahan
ekstremisme tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan keamanan, tetapi
perlu diperkuat melalui pendidikan, keteladanan, dialog, keadilan dan
persatuan,” ujarnya.
Masuk
Perencanaan Mulai 2027
Hasil
workshop selanjutnya menjadi bahan penyempurnaan RAD PE Provinsi NTB Tahun
2026–2029. Setiap perangkat daerah akan menginventarisasi program yang dapat
diintegrasikan, sekaligus menentukan indikator, target, lokasi, kelompok
sasaran, penanggung jawab dan kebutuhan anggaran.
Langkah
tersebut diharapkan membuat RAD PE tidak berhenti sebagai dokumen kebijakan,
tetapi dapat diterjemahkan menjadi program nyata yang berjalan secara
kolaboratif.
Komitmen
yang dibangun dalam workshop juga menempatkan nilai gotong royong, kebersamaan
dan kearifan lokal masyarakat NTB sebagai modal sosial dalam memperkuat
ketahanan masyarakat.
Dengan
berakhirnya workshop, tahapan berikutnya adalah penyempurnaan matriks RAD PE
dan integrasi program ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah,
khususnya mulai Tahun Anggaran 2027 dan seterusnya.
Upaya
tersebut diharapkan memperkuat sistem pencegahan ekstremisme di NTB melalui
pendekatan yang lebih dini, kolaboratif, inklusif dan berkelanjutan.

0 komentar:
Posting Komentar